Anda berada disini:Beranda/Kalimantan/Kalimantan Selatan/Candi Laras, Peninggalan Purbakala di Kalimantan Selatan

Candi Laras, Peninggalan Purbakala di Kalimantan Selatan

20.11.2019
855
Ekskavasi Candi Laras tahun 1997/1998. Ekskavasi Candi Laras tahun 1997/1998. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Situs Candi Laras terletak di Desa Candi Laras, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan. Penduduk setempat menyebut lokasi situs ini berada dengan nama Tanah Tinggi.

Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru yang sedang memegang cupu, lembu Nandini, dan lingga. Saat ini, temuan tersebut disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Letak Situs Candi Laras dikelilingi oleh anak sungai kecil dari sungai Margasari. Masyarakat setempat menyebut anak sungai itu sebagai Sungai Amas. Konon, sebelum dijadikan cagar budaya, masyarakat setempat ada yang mendulang emas di sekitar Situs Candi Laras.

Warga yang beruntung menemukan lembaran emas yang diduga merupakan harta peninggalan zaman kerajaan Hindu dan Buddha. Di masa silam, emas tersebut merupakan persembahan peziarah saat singgah di Situs Candi Laras tersebut. Nama Sungai Amas sendiri diambil dari adanya penemuan emas oleh warga di sungai tersebut.

Situs purbakala Candi Laras diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin. Dugaan tersebut didasarkan pada benda-benda arkeologi yang ditemukan di sekitar situs ini yang berasal dari abad ke-8 atau ke-9.

Di daerah yang berdekatan dengan candi tersebut, yaitu di jalan Desa Baringin B dekat sungai Tambingkaran yang termasuk daerah aliran Sungai Amas ditemukan arca Buddha Dīpankara. Keadaannya sudah rusak bagian tangan kanan dan kedua kaki sudah patah. Arca Buddha itu dibuat dari bahan perunggu dengan ukuran lebar 8 cm dan tinggi 21 cm.

Arca tersebut digambarkan berdiri, memakai jubah yang disampirkan pada bahu kiri. Tangan kirinya ke depan sambil memegang ujung jubah. Wajahnya digambarkan agak bulat dengan mata sipit dan mulut dengan ujung bibirnya agak ke atas seperti pada wajah arca-arca Thailand. Dilihat dari ciri wajahnya, arca Buddha itu berlanggam Dwarawati yang berkembang pada sekitar abad ke-8 Masehi.

Ditemukan juga fragmen prasasti batu dengan bertuliskan aksara Pallawa di dasar Sungai Amas. Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini yang berkaitan dengan “perjalanan suci”, berbunyi //… siddha…// (selengkapnya seharusnya berbunyi //jaya siddha yatra// artinya “perjalanan suci yang mendapat hasil”). Prasasti Siddhayatra ini kalau dilihat bentuk akasaranya sezaman dengan prasasti Siddhayatra yang banyak ditemukan dari daerah Palembang.

Dilihat dari gaya seni arca Buddha Dīpankara dan bentuk aksara pada fragmen prasasti diduga bahwa tempat itu sudah ada penduduk sejak abad ke-7-8 Masehi. Pada tahun 2000, dilakukan penelitian radiokarbon C-14 dari sampel tonggak kayu ulin yang masih tertancap di lokasi aslinya, dan dihasilkan penanggalan sekitar abad ke-14 Masehi.

Di masa silam, Candi Laras diperuntukkan untuk pemujaan rombongan dari Candi Agung yang beristirahat. Sampai saat ini, candi ini masih digunakan sebagai tempat peziarahan bagi umat Hindu. Di tempat ini, bisa ditemukan bekas tempat sesaji dari anyaman daun kelapa. Juga ada sejumlah potongan kain kuning, baik yang sudah lama maupun yang baru.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/candi-laras-peninggalan-purbakala-di-kalimantan-selatan

Share Content

 
Rating Konten
(1 Pilih)
Kategori Menu
Label Konten

Waktu adalah segalanya, segala sesuatu terjadi sesuai waktunya

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

48 komentar

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Kesabaran adalah nafas yang menentukan seberapa lama kebaikan berjalan

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com