Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Hans

Hans

Merdeka adalah hak setiap individu. Merdekalah...

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Memancing dengan layang-layang mungkin akan terdengar aneh bagi telinga kita. Namun, cara menangkap ikan ini benar-benar ada, dan sebenarnya sudah umum di kalangan para pemancing.

Di Indonesia, cara memancing ikan dengan layang-layang sudah digunakan sejak dulu. Di perairan teluk Lampung, kita masih bisa menemukan pelayang pancing (sebutan untuk orang yang memancing dengan layang-layang) meski jumlahnya sekarang sangat sedikit.

Untuk memancing dengan layang-layang (kite line), alat pancing yang digunakan terbuat dari bambu dilengkapi dengan layangan plastik. Panjang tali pancing disesuaikan dengan panjang bambu pancing. Jika tali pancing terlalu panjang, layang-layang akan sulit mengudara.

Ukuran layang-layang tidak terlalu besar. Para nelayan juga bisa menyesuaikan kestabilan layang-layang saat mengudara dengan kondisi angin. Jika angin berembus terlalu kencang, ekor layang-layang diikat dengan tali pancing agar terbangnya tak berantakan. Tidak ada kail pada pancing berlayang-layang ini.

Umpan yang digunakan untuk memancing dengan layang-layang adalah ikan tanjan yang dibeli di tempat pelelangan terdekat. Potongan ikan tanjan dikaitkan pada benang pancing yang diikat dengan simpul lasso.

Dulunya, para nelayan biasa menggunakan layang-layang yang terbuat dari daun loko-loko dan umpannya diikatkan pada benang layang-layang. Sasaran tangkapannya adalah ikan ceracas.

Di beberapa tempat di pesisir pulau Jawa, ikan ceracas disebut ikan cucut. Ikan yang bisa berenang di permukaan laut ini berhabitat di perairan teluk atau muara. Ikan dari keluarga Belonidae ini memiliki mulut panjang dengan gerigi yang tajam. Jika ia memakan umpan, maka paruhnya yang tajam akan menjerat tali umpan.

Metode memancing dengan layang-layang juga dipraktikkan di daerah lain, seperti di Jakarta, Banten, dan Sulawesi. Biasanya, nelayan yang menggunakannya adalah nelayan dengan perahu kecil.

Nelayan di wilayah Candi, kota Bitung, Sulawesi Utara menggunakan cara ini untuk menangkap ikan tuna. Dengan layang-layang, nelayan bisa menangkap ikan tuna lebih cepat, terutama ikan tuna yang berenang di dekat permukaan.

Cara menangkap ikan cara ini tergolong ramah lingkungan. Dengan alat pancing, selektivitas dalam menangkap ikan menjadi lebih tinggi daripada menggunakan jaring dan rawai (longline). Keselektifan alat pancing membantu meminimalkan ikut terpancingnya spesies yang tak menjadi target (bycatch).

---

Sumber:

  • http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/27/20053180/menangkaplah. tuna.dengan.layang-layang
  • http://travel.kompas.com/read/2013/02/09/11260192/Serunya.Bermain.Layang-layang.Sambil.Memancing
09.03.2020

Di Bengkulu, terdapat pulau kecil yang sangat menawan. Pulau yang berjarak 10 mil laut dari Kota Bengkulu tersebut bernama Pulau Tikus. Dengan keindahan yang dimilikinya, pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang populer di sekitar Kota Bengkulu.

Dahulu, pulau berpasir putih halus bak tepung ini dijadikan tempat persinggahan sementara para nelayan yang tengah mencari ikan di perairan Bengkulu.

Namun, sejak maraknya penambangan batu bara di Bengkulu para era 1980-an hingga 2012 lalu, pulau ini berubah fungsi menjadi tempat bongkar muat batu bara.

Kapal-kapal berbobot mati hingga 60.000 ton melego jangkar di perairan Pulau Tikus menyebabkan patahnya terumbu karang dan mencemarinya dengan limbah batu bara. Ikan-ikan yang menjadi tangkapan para nelayan ikut hilang akibat rusaknya habitat mereka.

Berkat desakan warga serta lembaga masyarakat, aktivitas bongkar muat batu bara kemudian dihentikan oleh pemerintah Kota Bengkulu. Namun, nasi sudah jadi bubur. Kerusakan telah terjadi. Butuh sekitar 30 tahun untuk memulihkan terumbu karang ke kondisi semula.

Pulau kecil ini juga mengalami penyusutan. Pada 2013, luas daratannya masih mencapai 2 hektare. Pada 2015, luasnya mengecil menjadi 0,8 hektare. Sedangkan pada 2018, daratan yang tersisa tinggal 0,6 hektare.

Rusaknya terumbu karang yang berperan sebagai penahan abrasi pantai serta naiknya permukaan laut akibat pemanasan global menjadi sebab menyusutnya luas Pulau Tikus.

Meski demikian, pulau yang berada tak jauh dari Pulau Panjang ini masih menyimpan banyak keindahan. Pulau Tikus merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang diminati wisatawan di Kota Bengkulu.

Untuk menuju pulau ini, Anda harus menggunakan alat trasportasi air, seperti speed boat atau perahu nelayan. Anda bisa naik dari Pantai Jakat, Pantai Tapak Paderi, ataupun dari pelabuhan Pulau Baai.

Jika dari Pantai Jakat, waktu tempuh adalah ±60 menit, dari Pantai Tapak Paderi ±30 menit, dan dari Pelabuhan Pulau Baai adalah ±40 menit. Sedangkan untuk menuju tiga spot pelabuhan tersebut Anda bisa menggunakan kendaraan apa saja, baik kendaraan umum ataupun pribadi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pulau-tikus-keindahan-wisata-bahari-di-kota-bengkulu/

18.12.2019

Saat ini mengenakan pakaian tradisional memang sedang digalakan dalam beraktivitas. Contohnya kuluk atau tekuluk yang biasanya digunakan oleh wanita Jambi yang kini mulai dikenal dan dimodifikasi sebagai turban. Modifikasi hijab ini yang membuat orang mau melirik pakaian tradisional untuk dijadi trend fashion. Turban saat ini sedang diminati, karena simpel dan mudah dalam pengunaan.

Dahulu pemakaian kuluk bagi wanita Jambi dengan baju kebaya songket, sarung songket, kalung tapak kudo bungo matahari, gelang pilin dan kerabu bungo matohari. Penggunaan itu bukan sebatas mempercantik tapi juga memiliki simbol dan artis tersendiri. Seperti, penggunaan kalung tapak kudo bungo matahari bermakna wanita yang telah terikat dan harus menjaga sikap dari aturan dan agama.

Sementara, selendang songket warna merah berlambang keberanian dalam berbicara. Selendang ini terbuat dari benang katun warna merah atau hitam. Tutup kepala Kuluk Beselang Mertuo beserta perlengkapan pakaiannya mencerminkan sebuah demokrasi yang luas namun tetap berada dalam ranah nilai-nilai luhur budaya tradisional.

Orang Kerinci sebelum agama Islam masuk, sudah mengenakan tradisi penutup kepala. Tutup kepala ini berfungsi sebagai pelindung kepala dari kondisi, juga mencerminkan status sosial budaya yang mengidentifikasikan martabat si pemakainya.

Bila menurut cerita di semua kerajaan Melayu pasti ada tengkuluk, maka tak heran kalau di Jambi memiliki jenis tengkuluk paling banyak. Suku Bathin yang ada di Sarolangun, Merangin, dan Kerinci, adalah suku-suku yang memiliki tengkuluk terbanyak. Kuluk sendiri merupakan penutup kepala yang dibuat melalui lilitan kain.

Jumlah kuluk atau tengkuluk yang terdata di museum di Jambi, ada 98 jenis yang sering digunakan perempuan Jambi. Tengkuluk merupakan simbol kecantikan seorang wanita di Jambi. Setiap bentuknya memiliki arti dan filosofi yang berbeda. Salah satu kuluk yang sering digunakan adalah Kuluk Kembang Duren, yang biasanya dipakai oleh gadis Jambi sebagai simbol kecantikan. Setiap jumlah lipatan tengkuluk atau kuluk memiliki arti yang berbeda.

Kain yang menjuntai di sebelah kanan dan kiri juga punya arti berbeda, sehingga aturan pemakaian kuluk harus benar-benar dicermati. Untuk kain kuluk yang menjuntai ke kanan hanya untuk wanita yang sudah menikah. Sedangkan yang menjuntai ke sebelah kiri untuk mereka yang belum menikah.

Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Lilit Tungkai, dan Kuluk Berdzikir, sangat sering digunakan oleh perempuan Jambi dan di luar Jambi. Sedangkan untuk upacara adat seperti adat perkawinan, pemberian gelar, turun sko, kuluk yang sering digunakan antara lain, Kuluk Mahkota, Kuluk Kerinci Mudik, Kuluk Sapik Udang, Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Kipas Terlilit, Kuluk Kenduri Sko Lempur, Kuluk Pengajian, Kuluk Harian, Kuluk Berumbai Jatuh, dan Kuluk Ketelang Petang. Kuluk yang khusus untuk kebutuhan religi adalah Kuluk Pengajian. Kuluk ini dipakai kaum wanita yang sudah berumur untuk pergi ke masjid atau ke pasar. Ia mencerminkan ketaatan wanita pada ajaran agama Islam yang sesuai Al Quran dan hadis.

Sedangkan Kuluk Kuncup Melati, digunakan untuk perempuan yang belum menikah ketika menari dan menyambut tamu saat upacara adat. Kuluk Ketelang Petang atau Kuluk Ke Umo ini biasa dikenakan oleh kaum wanita di daerah pegunungan maupun yang tinggal di daerah pantai. Biasanya mereka menyangkutkan keranjang rotan atau bambu di kepalanya untuk membawa makanan pergi ke umo dan sekembalinya mereka membawa kayu dan hasil kebun.

Kuluk yang melambangkan kekayaan bumi Jambi dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki juga tergambar dalam Tengkuluk Daun Manggis yang dipakai para penari dari Muaro Bulian Kabupaten Batanghari. Dinamakan daun manggis karena di sekitar daerah ini dulunya merupakan penghasil manggis dan daun ini sering digunakan untuk obat bagi masyarakat. Ia juga mencerminkan ketulusan hati seseorang dalam mengayomi masyarakat sesuai aturan adat istiadat berlaku.

Tengkuluk yang digunakan oleh isteri atau anak dari pemangku adat ketika menghadiri acara adat adalah Tengkuluk Mayang Terurai. Kata mayang berasal dari rumput panjang yang terurai karena saat pemasangan di belakang kepala ada yang terjuntai menyerupai rambut panjang kita.

Selain itu ada juga Tengkuluk Daun Pandan Berlipat yang digunakan isteri pemangku adat untuk menghadiri upacara adat di desa Tabir Kabupaten Bungo. Penggambaran daun pandan terlihat pada saat pemasangan tengkuluk dilipat menyerupai daun pandan. Tengkuluk ini menggambarkan kekuatan tanpa kesombongan bagi seorang pemimpin cerdas dan dipercaya masyarakat.

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/uniknya-kuluk-beselang-mertuo-penutup-kepala-khas-perempuan-jambi

 

22.11.2019

Secara administratif, Kompleks Candi Bumiayu berada di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Panukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Kompleks percandian warisan Sriwijaya ini mulai diketahui keberadaannya setelah dilaporkan pertama kali oleh E P Tombrink dalam Hindoe Monumenten in de Bovenlanden van Palembang pada 1864.

Kompleks Candi Bumiayu berada di meander Sungai Lematang dengan batas-batas sebelah timur berbatasan dengan Sungai Lematang, sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Lubuk Panjang, sebelah barat berbatasan dengan Sungai Tebat Siku, dan sebelah utara berbatasan dengan Sungai Tebat Jambu. Dengan demikian, kompleks percandian ini dikelilingi oleh tiga sungai.

Seperti yang dilansir Kompas (23/06/2019), ada 11 situs berupa gundukan tanah di kompleks percandian seluas 15 hektare itu. Lima bangunan telah selesai dipugar dan diberi cungkup (candi 1, candi 2, candi 3, candi 7, dan candi 8). Percandian itu dikelilingi oleh hamparan rumput hijau yang terawat dihiasi pepohonan rindang.

Di tengah Kompleks Candi Bumiayu, ada tiga gedung koleksi reruntuhan candi. Tempat itu menyimpan fragmen arca dan batu berelief yang tadinya menempel di candi. Gedung koleksi utama yang terletak di antara candi 2 dan 3 menyimpan sejumlah benda yang relatif utuh, foto-foto, dan keterangan mengenai sejarah percandian tersebut.

Kompleks Candi Bumiayu tidak terlalu jauh dari Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Lokasinya berjarak sekitar 100 km ke arah barat Palembang atau 2-3 jam perjalanan darat. Jalannya cukup bagus, hampir semua sudah beraspal dan cor beton.

Keberadaan situs candi itu sudah diketahui warga setempat sejak dahulu. Ketika itu, kompleks percandian itu dianggap sebagai reruntuhan keraton Kerajaan Gedebong atau Kebon Undang. Gedebong atau kebon artinya tempat atau wilayah, sedangkan Undang artinya mengajak atau mengundang. Maksudnya, kerajaan itu adalah tempat untuk semua orang.

Namun, sejak masuknya Islam pada abad ke-13, perlahan kompleks percandian itu ditinggalkan. Namun, meski tidak lagi digunakan sebagai tempat ritual, warga sekitar tetap menjaga situs tersebut melalui larangan. Warga yang melanggar larangan tersebut dipercaya akan terkena musibah.

Uniknya, di kompleks percandian yang dibangun pada abad ke-8 sampai ke-13 itu terdapat corak Hindu Syiwa, Buddha Mahayana, dan Hindu Tantris. Itu artinya, ada jejak tiga aliran agama dalam situs percandian ini.

Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan sejumlah arca-arca di kompleks percandian ini, seperti Siwa Mahadewa, Agatsya, Nandi, Singa yang membawa roda kereta. Khusus arca Singa membawa roda kereta diyakini hanya ada di kompleks percandian tersebut. Juga ada arca logam Buddha dan Awalokisyeswara. Ada pula arca Siwa Bhairawa, Dewi Bhairawi, dan makhluk ghana (penjaga candi) yang tubuhnya dihiasi tengkorak.

Temuan tersebut juga menunjukkan toleransi beragama sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya dulu. Walaupun mayoritas menganut Buddha Mahayana, penguasa Sriwijaya tidak membatasi ataupun mematikan aliran lain untuk eksis dan berkembang.

Kerajaan Sriwijaya yang berada di daerah pesisir merupakan kerajaan maritim dan kerajaan dagang. Itu sebabnya, kerajaan ini terbiasa berinteraksi dengan orang luar. Maka tak heran jika toleransi dan sikap terbuka berkembang pada masyarakatnya, termasuk dalam kepercayaan.

Sejak candi 1 selesai dipugar pada awal 1990-an, warga pemeluk Hindu ataupun Buddha mulai berdatangan untuk melakukan ritual agama di percandian itu, terutama saat Nyepi dan Waisak.

Kompleks percandian ini merupakan satu-satunya cagar budaya candi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan. Kini Candi Bumiayu telah menjelma menjadi tempat tujuan wisata favorit di Sumsel. Terlebih lagi, kompleks percandian itu menyimpan banyak keunikan dibandingkan dengan candi-candi lain.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kompleks-candi-bumiayu-jejak-tiga-aliran-agama-pada-peninggalan-sriwijaya

01.11.2019

Bagi penikmat “rajanya buah” ini pastinya tidak akan pelit untuk mengeluarkan kocek berapapun. Beberapa waktu lalu, buah durian yang dibanderol belasan juta per butir viral di media sosial. Satu lagi durian yang harganya juga berkali-lipat dengan harga durian sewajarnya, Super Tembaga Bangka namanya.

Super Tembaga Bangka termasuk favorit di kalangan pecinta durian. Harga bibitnya saja mencapai Rp.200ribu per pohon, dan mencapai Rp.300ribu untuk buahnya.

Keistimewaan buah durian Super Tembaga Bangka ini adalah dari rasanya yang legit dan sedikit pahit. Lalu terdapat empat bagian dalam buahnya. Selain itu, daging buahnya juga kuning tebal.

Reza Tirmiwinata, seorang pakar durian dari yayasan Durian Nusantaram setiap daerah di Indonesia memiliki varietas durian yang berbeda-beda.

"Di Jepara Durian Si Nenek, misalnya, tinggal banyak bibit, sebarluaskan karena Duren Petruk yang legendaris di sana sudah nggak ada. Di Bangka ada Super Tembaga, setiap daerah punya keunggulan masing-masing," Jelasnya yang dikutip dari Republika Online.

Pakar durian dari Malaysia pun, Profesor Aziz, mengatakan bahwa Super Tembaga Bangka adalah salah satu durian yang bisa dikembangkan di Indonesia.

"Saya merasa durian juga banyak di Pulau Jawa, tapi bicara kualitas belum terlalu bagus. Pasarnya mungkin paling ke Singapura ke arah yang ada rasa pahit. Kalau Super Tembaga rasanya legit dan pahit disukai Malaysia dan Singapura,"

"Saya kira ini (durian) untuk ladang yang besar 20-30 hektare, di Makassar ada 200 hektare lahannya Durian Musangki, belum ditanam semua, jadi perlu sediakan air yang banyak," imbuhnya.

---

Sumber : Republika Online

 

27.05.2019

Kampung Literasi akan dibangun di daerah Legok Danau Sipin, Jambi. Pembangunan ini dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) yang tergabung dalam Tanoto Scholars Association (TSA).

Target Kampung Literasi adalah anak-anak yang belum bisa membaca, berhitung, dan menulis. Ketua TSA Jambi, Geeza Liori, menuturkan keinginan TSA untuk membantu mereka.

Dikatakannya, sasaran dari program Kampung Literasi ini menjangkau anak-anak usia 4 sampai 8 tahun. Selain membantu anak-anak bisa membaca dan menulis, target yang ingin dicapai adalah terciptanya budaya literasi di tengah keluarga.

“Ke depan, keluarga juga akan kita libatkan, namun setelah target kepada anak-anak tercapai terlebih dahulu,” tukas Geeza.

Total awal peserta yang akan mengikuti program Kampung Literasi ini sebanyak 20 anak, namun pihaknya ke depan akan menambah jumlah anak, setelah melihat proses hasil yang berjalan.

Ketua Panitia Kampung Literasi TSA Jambi, Maslahatun Amma Sasqia, mengatakan rencana kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli 2019 pada hari Sabtu dan Minggu. Selain itu akan melibatkan 30 mahasiswa sebagai relawan yang tergabung dalam TSA Jambi.

“Sabtu minggu kami pilih karena anak-anak bisa mengikuti dan tidak mengganggu kegiatan perkuliahan di kampus,” ujar Kiki, panggilan akrab Maslahatun Amma Sasqia.

Selama dua bulan program kampung literasi, TSA Jambi akan fokus membantu anak-anak yang belum bisa membaca, berhitung dan menulis.

Yusriwiati, pendamping TSA Jambi yang juga Training Specialist Tanoto Foundation Jambi berharap, kegiatan kampung literasi yang digagas oleh TSA Jambi ini berdampak positif terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan di lokasi kegiatan berlangsung.

“Positif sekali ya, kita support anak-anak TSA dengan memberikan bekal kepada mereka tentang literasi, agar ketika terjun di lokasi kegiatan mereka sudah tidak canggung lagi,” ujarnya.

Selain program PINTAR, Tanoto Foundation juga memiliki program di pendidikan tinggi yaitu program TELADAN yang merupakan singkatan dari Transformasi edukasi untuk melahirkan pemimpin masa depan.

Program TELADAN berusaha untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu membuat dampak positif di masyarakat. Program TELADAN mencetak para teladan di masyarakat yang menginspirasi pengusaha dan komunitas bisnis untuk berkontribusi positif terhadap lingkungan yang berkelanjutan.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/22/kampung-literasi-akan-dibangun-di-jambi

23.05.2019

Ukuran perahu ketinting tidaklah besar. Namun, dengan bentuknya yang unik dan ramping dilengkapi cadik (katir) penyeimbang, ketinting mampu meluncur dengan lincah menerjang ombak dan angin di lautan. Perahu tradisional ini memiliki bentuk mirip mahkota siger khas Lampung dengan kedua ujung lancip melengkung indah.

Ada juga yang menyebut perahu tradisional ini sebagai jukung Lampung atau jung. Perahu sejenis juga dapat ditemui di beberapa daerah lain di Nusantara, seperti di Banjar (Kalimantan Selatan), Sulawesi, Madura, Bali, dan pesisir Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung.

Ketinting merupakan perahu tradisional nelayan Lampung yang telah lama digunakan untuk melaut mencari ikan. Nelayan di Teluk Kiluan tidak saja pandai memburu ikan dengan perahu lincah ini, tapi juga mahir membuat perahu dengan bahan kayu lumas atau kayu tabo yang ada di sekitar mereka.

Menariknya, mirip seperti perahu sandeq, bahan yang digunakan untuk membuat perahu ketinting adalah gelondongan kayu utuh. Kayu tersebut dilubangi atau diserut untuk membuat lambung perahu.

Ketinting biasanya dibuat oleh keluarga nelayan pesisir Lampung dengan lama pembuatan hingga tiga bulan. Ukuran panjang perahu ini sekitar 11 meter dengan lebar 60 cm. Makin panjang perahu, harganya akan semakin mahal.

Dahulu, perahu ini digerakkan oleh angin dengan tiang layar dan dayung yang melengkapinya. Namun, sekarang lebih banyak di Lampung menempelkan mesin motor sebagai penggeraknya.

Batang kayu lumas atau kayu tabu setelah ditebang akan dikeringkan selama dua bulan agar awet sebelum memasuki proses pembentukan badan perahu. Setelah proses pengeringan selesai, barulah perahu dibentuk, dihaluskan, kemudian diberi papan sebagai pelapisnya.

tahap akhir adalah proses pengecatan dengan warna yang biasanya mencolok, seperti hijau, kuning merah, atau biru. Rata-rata panjang perahu ini 8-10 meter dengan kapasitas angkut 4 sampai 6 orang.

Setelah selesai pengecatan, perahu akan dilengkapi cadik penyeimbang dari bambu atau sering pula disebut katir. Cadik bambu ini akan menjadi penangkal ombak besar dan menyeimbangkan perahu agar tetap melaju kencang.

Ketinting yang digunakan di sekitar rawa biasanya tidak ditempeli cadik demi memudahkannya menerobos hutan bakau. Sedangkan untuk perahu yang digunakan untuk berlayar di laut tentunya lebih aman dengan cadik penyeimbang.

Nelayan pemilik ketinting akan rajin merawat ketinting agar awet dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Cara lain adalah cat ulang agar dapat bertahan lama. Dengan perawatan rutin, biasanya perahu ketinting mampu bertahan dengan penggunaan aktif selama 7 tahun.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/ketinting-perahu-khas-lampung-yang-unik

20.05.2019

Masyarakat suku Serawai di Bengkulu memiliki tradisi unik untuk menyambut hari Lebaran yang disebut ronjok sayak atau bakar gunung api.

Batok kelapa disusun tinggi menjulang. Pada malam menjelang Idul Fitri, susunan batok itu dibakar.

Kegiatan membakar susunan batok kelapa ini dilakukan di depan rumah warga. Setiap rumah bahkan membuat lebih dari satu “gunung api”, yang disusun seperti tusuk sate hingga tinggi menjulang.

Bakar Gunung Api, Tradisi Unik Menyambut Lebaran di Bengkulu

Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Batok kelapa menyimbolkan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai doa bagi arwah para leluhur yang telah meninggal.

Kegiatan membakar susunan batok kelapa ini dilakukan saat malam takbiran setelah shalat Isya.

16.05.2019

Dataran Tinggi Pasemah terletak di antara Lahat dan Pagaralam. Untuk menuju kesana, dari Palembang kita bisa menumpang kendaraan umum menuju ke Lahat dan Pagaralam yang merupakan kota utama di wilayah Pasemah.

Perjalanan dari Palembang akan melalui kawasan dataran rendah berawa-rawa sepanjang 50 km. Kita juga akan melewati sejumlah desa dengan rumah-rumah panggung dari kayu. Di sepanjang jalan terdapat sejumlah rumah makan Padang yang buka 24 jam.

Selain pemandangan alamnya yang indah, Dataran Tinggi Pasemah merupakan kawasan perlindungan budaya. Di area yang terletak di antara Bukit Barisan dan Pegunungan Gumai ini terdapat peninggalan sejarah berupa batu-batu megalit yang berasal dari zaman purba.

Peninggalan yang diperkirakan berusia 3.000 tahun tersebut cukup banyak ditemui di wilayah ini. Bentuknya bervariasi, dari arca megalitik (manusia dan binatang), menhir berukir dan poles, batu berlubang, lumpang batu, batu datar, hingga batu pipisan.

Informasi mengenai peradaban yang menjadi sumber peninggalan itu sebagian besar masih tertutup misteri. Namun, bisa dipastikan bahwa kawasan itu telah dihuni manusia ribuan tahun sebelum Masehi. Tanah di wilayah itu memang subur sehingga cocok untuk pertanian. Maka tak heran jika di kawasan itu digunakan sebagai tempat bermukim.

Peninggalan megalitik berupa pahatan detail dan halus yang ada di kawasan ini mengindikasikan bahwa arca tersebut dibuat dengan semacam pahat dari logam. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Pasemah saat itu sudah mengenal pengolahan logam. Bisa disimpulkan bahwa peninggalan megalitik Pasemah dibuat pada masa perundagian, sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi.

Bilik batu dan arca di Pasemah dibangun untuk tujuan yang sifatnya religius. Situs Pasemah mulai diteliti tahun 1930-1931 oleh Van der Hoop. Peneliti berkebangsaan itu mempublikasikan hasil penelitiannya dalam buku Megalithic Remains in South Sumatera (1932). Karya tersebut menjadi buku babon yang mengulas megalitik Pasemah secara lengkap.

---

Sumber:

  • https://1001indonesia.net/mengenal-dataran-tinggi-pasemah-yang-indah-dan-bersejarah
  • http://link-care.blogspot.com/2017/08/pesona-wisata-dataran-tinggi-pasemah.html
30.04.2019

Kain tapis kapal digunakan sebagai pakaian tradisional perempuan Lampung, khususnya masyarakat Lampung Selatan. Kain tenun tradisional ini berbentuk kain sarung. Dinamakan kain kapal karena motif utamanya adalah kapal. Kain ini menjadi gambaran betapa kuatnya budaya bahari pada masyarakat Lampung Selatan.

Kain tapis kapal merupakan warisan budaya yang memiliki filosofi sebagai simbol keselarasan antara kehidupan manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Motif kapal melambangkan semesta sebagai potret kehidupan maritim. Beberapa aristokrat (kaum bangsawan) bersama gajah berdiri di atas dek kapal. Pada bagian tengah terdapat sebuah rumah yang menjadi titik sentral.

Untuk membuat kain tapis kapal Lampung, diperlukan kapas dan emas yang ditenun dengan metode ikat, juga benang sutera, lilin sarang lebah (untuk meregangkan benang), akar serai wangi (untuk pengawet benang), dan daun sirih (untuk menguatkan warna).

Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan lokal. Warna merah, misalnya, didapat dari buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu pejal. Warna kuning didapat dari kunyit dan kapur sirih. Warna hijau di hasilkan dari kunyit, mengkudu, daun talom, dan daun pulasan dengan bahan campuran air jeruk dan air sirih. Warna hitam dari kulit kayu salam atau kulit kayu rambutan. Warna cokelat didapat dari kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian. Warna biru dari buah deduku atau daun talom.

Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri atas tiga bagian. Pertama, motif border atau batas. Motif border bisa terdiri atas satu, dua, atau tiga lapis dengan motif yang berbeda tiap lapisan.

Kedua, motif utama. Motif utama ini biasanya terdiri atas kapal (jung), rumah, manusia, dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal.

Ketiga, motif filler atau pengisi. Motif jenis ini mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antarmotif utama. Motif jenis ini biasanya berbentuk segitiga, kotak, helaian pakis atau motif-motif lain.

Menurut panjangnya, kain kapal dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari 1 meter. Biasanya digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.
  2. Tatibin, biasanya panjangnya 1 meteran. Digunakan sebagai hiasan dinding. Kadang-kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.
  3. Pelepai, merupakan kain kapal yang paling panjang. Ukuran panjangnya bisa mencapai 3 meter. Kain ini digunakan sebagai hiasan dinding. Biasanya, kain jenis ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

Kain kapal digunakan sebagai perlambang perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, biasanya kain kapal terdiri atas tiga bagian, Alam Bawah, Alam Manusia, dan Alam Atas. Kapal juga menjadi perlambang kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke akhir titik.

Dalam lintasan waktu, terjadi perubahan besar cara pandang orang Lampung terhadap kain kapal. Setidaknya ada dua masa perubahan kain kapal. Yang pertama adalah masa sebelum masuknya agama Islam.

Saat itu, motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalanan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Oleh sebab itu, pada masa ini motif-motif kain cenderung berwarna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas, dan dunia bawah.

Setelah agama Islam masuk ke Lampung, motif kapal tidak lagi berarti perjalanan kematian, tetapi adalah perjalanan kehidupan seseorang. Sebab itu, titik-titik penting dalam kehidupan manusia, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian, menjadi hal yang pokok. Pengaruh pandangan Islam yang kuat pada pemikiran masyarakat Lampung yang menyebabkannya.

Hal ini membawa pengaruh juga pada pilihan warna kain kapal Lampung. Warna yang tadinya cenderung gelap berubah ke warna-warna cerah.

Terancam Punah

Saat ini keberadaan kain tapis kapal semakin menghilang dari kehidupan sosial masyarakat Lampung. Penyebabnya adalah letusan Gunung Krakatau dan masuknya kolonialisme yang memaksa masyarakat untuk membuat tekstil bagi tentara perang. Padahal, kain Tapis Kapal bernilai budaya sangat tinggi. Bahkan, di beberapa museum di luar negeri, kain tapis kapal Lampung menjadi koleksi paling prestisius.

---

Sumber:

  • http://www.tribunnews.com/regional/2012/06/22/kain-tapis-kapal-lampung-terancam-punah
  • https://kainkapal.wordpress.com/
  • http://sen1budaya.blogspot.co.id/2013/01/mengenal-kain-tapis-asli-lampung.html
22.04.2019

Rafflesia arnoldii atau padma raksasa merupakan tumbuhan parasit obligat yang biasanya tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Tumbuhan ini sangat terkenal karena ukuran bunganya besar sekali.

Rafflesia Arnoldii bukan hanya merupakan jenis raflesia terbesar yang ada. Bunga endemik Sumatra dengan diameternya yang mencapai 110 cm ini merupakan bunga terbesar di dunia.

Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Sumatra, tepatnya di Dusun Pulau Lebar, Desa Kayu Ajaran, Ulu Manna, Bengkulu Selatan.

Penemunya adalah seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold. Saat itu, Arnold sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Tumbuhan ini kemudian diberi nama sesuai penemunya, yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold.

Karena Rafflesia arnoldii tidak memiliki daun maka tumbuhan ini tidak mampu melakukan fotosintesis sendiri. Untuk hidup, ia harus mengambil nutrisi dari pohon inangnya. Pohon inangnya yang berasal dari genus Tetrastigma mengandung banyak air. Hal ini mengindikasikan bahwa Rafflesia resistan terhadap kekeringan.

Bentuk yang terlihat dari tumbuhan raflesia ini hanya bunganya saja yang berkembang dalam kurun waktu tertentu. Keberadaannya seakan tersembunyi selama berbulan-bulan di dalam tubuh inangnya hingga akhirnya tumbuh bunga yang hanya mekar seminggu.

Bunga yang masuk dalam kategori Puspa Langka Indonesia ini menjadi identitas provinsi Bengkulu. Rafflesia arnoldii menjadi salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia mendampingi puspa bangsa (melati putih atau Jasminum sambac) dan puspa pesona (anggrek bulan atau Phalaenopsis amabilis).

Deskripsi Morfologis Rafflesia Arnoldii

Bentuk bunga Rafflesia arnoldii melebar dengan lima mahkota bunga. Bunga menjadi satu-satunya bagian tumbuhan yang terlihat dari Rafflesia arnoldii. Kelopaknya bertekstur kasar, berwarna oranye, dan berbintik-bintik dengan krim berwarna putih.

Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm dan berat hingga 11 kg.

Rafflesia arnoldii memiliki organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik, dalam satu rumah yang terdapat di bagian tengah dasar bunga yang berbentuk melengkung seperti gentong. Proses penyerbukannya dibantu serangga yang tertarik pada bau bunga yang menyengat.

Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga hingga 9 bulan. Masa mekarnya hanya sekitar 5–7 hari saja. Kemudian bunga raflesia akan layu dan mati.

Ekologi dan Habitat

Bunga Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan endemik di Pulau Sumatra, terutama bagian selatan, yakni Bengkulu, Jambi dan Sumatra Selatan.

Rafflesia arnoldii dapat dijumpai di beberapa lokasi, antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Pusat Pelatihan Gajah Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, dan Padang Guci Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Di hutan Bengkulu sendiri terdapat 4 spesies reflesia, yaitu Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia hasselti, dan Rafflesia bengkuluensis. Hingga saat ini bunga raflesia belum berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya.

Dari sekitar 30-jenis raflesia di seluruh dunia, hanya satu spesies yang dianggap terancam punah, yakni Rafflesia magnifica yang tumbuh di Filipina. Salah satu jenis raflesia yang sudah bisa tumbuh di luar habitatnya adalah Rafflesia patma.

Ancaman

Hilangnya habitat asli rafflesia arnoldii akibat alih fungsi hutan, penebangan liar, maupun kebakaran hutan tropis Sumatra menjadi ancaman serius bagi kelestarian bunga raksasa ini.

Selain itu, ancaman juga datang dari masyarakat yang merusak dan mengambil putik bunga raflesia untuk dimanfaatkan sebagai obat tradisional. IUCN memasukkan status konservasi padma raksasa asli Indonesia ini ke dalam kategori terancam punah.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/rafflesia-arnoldii

22.04.2019

Candi Muaro Jambi, yang berlokasi tidak jauh dari pusat Kota Jambi, yakni sekitar 30 kilometer, merupakan salah satu objek wisata sejarah di Provinsi Jambi.

Situs purbakala yang berada di di Kabupaten Muaro Jambi adalah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara. Kompleks situs candi kuno Muaro Jambi ini juga dikenal sebagai tempat pengajaran agama Buddha yang sudah ada sekitar seribu tahun lalu

Candi yang terletak di Danau Lamo, Maro Sebo, dan dekat dengan Sungai Batang Hari ini memiliki 82 reruntuhan bangunan kuno (menapo).

Tidak hanya luasnya yang diperkirakan berukuran delapan kali Borobudur, komplek Candi Muaro Jambi disebut juga sebagai situs kota kuno di Sumatera.

Salah seorang budayawan Jambi, Junaidi T. Noor, mengatakan kepada Liputan6.com, Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian Hindu-Buddha.

Pada bagian-bagian bangunan candi dapat menunjukkan bahwa pada zaman dulu Candi Muaro Jambi ini pernah dijadikan sebagai salah satu pusat tempat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana di Indonesia.

Beberapa hasil temuan benda sejarah yang terdapat pada Candi Muaro Jambi, seperti hasil reruntuhan Stupa, Arca Gajah Singh, dan Arca Prajinaparamita, makin memperkuat bukti sejarah bahwa candi ini sudah lama dijadikan sebagai pusat kegiatan agama Budha.

Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan ditemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Candi Muaro Jambi diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi. Kompleks candi ini, kali pertama dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke, yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

Lalu, pada 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Perkiraan peninggalan di Candi Muaro Jambi berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.

Di situs ini sudah sembilan bangunan telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Beberapa arkeolog juga menyimpulkan, kompleks Candi Muaro Jambi dahulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Hal itu nampak dari ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India.

Kompleks percandian Muaro Jambi secara total berisi 61 bangunan candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum digali (diokopasi).

Pada tahun 2012, Kompleks Candi Muaro Jambi ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST).

Beberapa candi yang sudah dipugar dan bisa dikunjungi para pelancong antara lain Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gumpung, Candi Gedong 1 dan 2, Candi Astano, serta kolam Talaga Rajo.

Candi Gempung adalah candi yang terlihat pertama kali saat wisatawan tiba di Kompleks percandian Muaro Jambi. Hamparan hijau di depan candi membuat Anda seperti berada di mini savana.

Wisatawan juga dapat melihat kanal-kanal tua dan tanggul alam kuno yang masih terlihat jelas mengelilingi Kompleks Percandian Muaro Jambi.

Lalu, bagi pengunjung yang ingin menyusuri seluruh area kompleks percandian, pengelola sudah menyiapkan penyewaan sepeda. Pengunjung juga bisa menggunakan jasa becak untuk berkeliling.

Tidak hanya berkeliling melihat situs sejarah, wisatawan yang datang juga bisa berswafoto dengan latar belakang minatur menara Eiffel yang terletak di sebuah taman yang sengaja dibangun di desa wisata Muaro Jambi.

Fasilitas toilet hingga balai pertemuan untuk aktivitas para wisatawan yang datang berkelompok juga disiapkan oleh pengelola.

Tiket masuk ke area percandian ini dikutip dari Tribunnews.com, adalah Rp5 ribu per orang. Namun, dengan hanya membayar Rp10 ribu, wisatawan juga sudah bisa menelusuri Kawasan Candi dengan sepeda atau becak motor.

Objek wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB.

Anda membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Jambi untuk menuju Kompleks Candi Muaro Jambi.

Selama perjalanan menuju lokasi wisata sejarah ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan indah melihat aliran sungai terpanjang di Sumatera, sungai Batanghari.

Selain itu, mata Anda juga akan dimanjakan dengan deretan rumah tradisional khas Melayu Jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas Jambi, durian dan duku.

Jika ingin menikmati manisnya durian dan duku khas Jambi, maka waktu yang tepat untuk mengunjungi objek wisata sejarah ini adalah pada bulan Desember hingga Maret, saat waktu musim buah tiba.

---

Sumber: beritagar.id

09.04.2019

Di Kelurahan Payo Lebar, Kota Jambi, terdapat sebuah sekolah setingkat PAUD dan TK unik yang dikenal sebagai sekolah bank sampah. Di sekolah ini, anak-anak tidak usah membayar dengan uang untuk mendapatkan pendidikan. Anak-anak cukup memberikan limbah rumah tangga sebagai ganti uang sumbangan pendidikan. Limbah ini dimanfaatkan juga sebagai bahan kerajinan dan alat peraga dalam kelas.

Sampah yang dibawa bisa berupa botol, gelas, kaleng, dan kardus yang sudah tidak terpakai lagi. Bisa juga pecahan besi, plastik, ataupun kertas yang biasanya dibuang. Benda-benda usang ini digunakan sebagai pengganti uang SPP.

Awalnya, metode pembayaran dengan sampah ini membuat sebagian orangtua siswa ragu akan kualitas pengajaran sekolah ini. Namun, setelah proses pengajaran berlangsung, mereka akan menyaksikan bahwa apa yang dipelajari sekolah ini sama seperti umumnya PAUD/TK lainnya. Di sekolah ini anak-anak bahkan diajari untuk lebih kreatif dan peduli dengan lingkungan sekitar.

Biasanya, sampah dianggap barang tak berguna dan dibuang begitu saja. Di sini, para guru mengajari siswa dan siswinya untuk mengolah bekas gelas plastik menjadi topi, mainan sederhana, hingga alat peraga.

Sebagian alat peraga yang digunakan dalam kelas, seperti kartu huruf dan angka serta berbagai pajangan bergambar di dinding merupakan hasil pemanfaatan sampah yang dibawa para murid dari rumah masing-masing.

Para guru bereksperimen dan melatih siswa di kelas membuat kerajinan yang memanfaatkan barang bekas. Pelatihan yang sama juga digelar untuk para orangtua siswa. Ada pula pelatihan keliling pengolahan sampah dari kampung ke kampung. Sebagian karya yang dihasilkan ditampung dalam negeri seni sederhana di kawasan Telanaipura.

Ide mendirikan sekolah bank sampah ini datang dari seorang penyiar muda di Radio Republik Indonesia (RRI) Jambi bernama Adi Putra. Dia menyulap rumahnya menjadi TK dan PAUD untuk membantu anak-anak kecil di sekitarnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagian besar mereka berangkat dari keluarga dengan tingkat ekonomi lemah.

Ide ini tak lepas dari pengalaman hidup Adi yang sangat lekat dengan sampah. Bertahun-tahun, ia melewati masa kecil sebagai pemulung. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan tidak mampu membiayai keempat anaknya untuk bersekolah. Adi yang bertekad untuk terus bersekolah, mencari uang sendiri dengan memulung barang bekas.

Saat ia merasa memulung tidak mencukupi untuk membiayai sekolah, ia mencoba pekerjaan lain, sebagai pedagang ikan di Pasar Angso Duo, Kota Jambi. Ia kemudian melakoni berbagai pekerjaan lain sampai akhirnya ia berhasil mencapai impiannya, menjadi sarjana FKIP Universitas Jambi.

Pengalaman hidupnya ini membuatnya tergerak saat ia menyaksikan banyak anak dari keluarga tidak mampu di sekitar tempat tinggalnya kesulitan untuk bersekolah. Ia bertekad untuk membantu mereka.

Untuk itulah, ia mendirikan PAUD dan TK di rumahnya. Namun, karena Adi tidak punya uang untuk menutupi semua kebutuhan operasional sekolah, ia mencoba untuk memanfaatkan sampah sebagai sumber pendanaan.

Ide ini sebenarnya sudah terbersit sejak 2010. Namun karena berbagai hambatan, pendirian sekolah baru terealisasi pada 2014. Tepatnya, pada 28 Mei 2014, Adi mendapatkan izin untuk mendirikan Sekolah Bank Sampah PAUD dan TK  AL-Kausar.

Ide menggunakan sampah sebagai alat bayar sekolah awalnya dianggap aneh dan dicemooh banyak orang. Mereka meragukan keberhasilannya. Namun, cemoohan itu tak menyurutkan tekadnya. Ternyata, sekolah yang digagasnya berkembang cukup pesat.

Didasari besarnya permintaan pendidikan gratis, para orangtua berlomba menyisihkan sampah di rumah. Jika tidak cukup mampu mengumpulkan sampah seusai nilai SPP yang dipatok, Adi menutupinya dengan bantuan donasi sampah dari kalangan usaha. Ia melibatkan donatur yang berasal dari restoran, kantor pemerintahan, toko buku, dan usaha media. Bentuk donasi ini pun bukan berupa uang, melainkan sampah.

Beberapa pihak yang menjadi donatur di antaranya Restoran Pondok Sepur, Toko Buku Gramedia, Tribun Jambi, Bank Indonesia Jambi, RRI, Telkomsel, PLN, rumah dinas wali kota Jambi. Hasil mengumpulkan sampah dari para murid dan donatur cukup untuk biaya operasional pendidikan termasuk membayar gaji empat orang guru dan kepala sekolah.

Selain di TK dan PAUD Al-Kausar, sekolah bank sampah juga dikembangkan Adi Putra di beberapa tempat, seperti di Sekolah Dayung Bank Sampah di kawasan Sipin dan Sekolah Bank Sampah Perempuan di Palmerah, Jambi. Metode ini juga diterapkan di sekolah satu atap SMP dan SMA Arradal Haq yang terletak di Pematang Lumut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Metode pembayaran SPP dengan sampah ini terbukti ampuh tidak hanya menyelesaikan persoalan pendidikan bagi anak dari keluarga ekonomi lemah, tapi juga untuk melatih semangat kewirausahaan bagi para murid dan orangtua.

Sumber:

  • http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/09/28/Sedekah-Sampah-untuk-Pendidikan
  • http://www.mongabay.co.id/2016/07/28/belajar-dari-adi-putra-sekolah-bayar-dengan-sampah/
  • Kompas, Rabu, 12 Oktober 2014.
07.04.2019

Dambus adalah alat musik petik khas Kepulauan Bangka Belitung. Alat musik tradisional ini sampai sekarang masih dimainkan. Bentuknya yang mengambil inspirasi dari kepala rusa mencerminkan kedekatan masyarakat Babel dengan alam sekitar. Bentuk ini pula yang menegaskan bahwa alat musik ini merupakan karya asli masyarakat Bangka Belitung.

Ada sebagian sumber yang menyebut, lahirnya alat musik tradisional ini karena pengaruh dari alat musik Timur Tengah bernama oud gambus atau yang populer disebut gitar gambus. Sebagian sumber lain menyebut, dambus sesungguhnya merupakan produk budaya asli masyarakat Babel.

Sebuah buku tua berjudul Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden terbitan tahun 1852 menyebutkan bahwa di rumah tradisional orang Bangka biasanya terdapat alat musik senar yang digantungkan di beranda. Franz Epp, seorang peneliti dari Jerman yang menulis buku tersebut, menemukan fakta itu ketika ia berkunjung ke rumah-rumah tradisional Bangka pada 1830-an untuk melakukan penelitian.

Franz mendeskripsikan alat musik tersebut terbuat dari kayu keras tapi ringan. Di bagian perut alat musik itu terdapat lubang yang ditutup dengan kulit monyet. Apa yang dilihat oleh Franz itu kemungkinan adalah alat musik yang sekarang disebut dambus.

Bisa dimengerti jika penamaan dambus terpengaruh dari alat musik Arab dengan iramanya yang disebut gambus. Namun, bentuk fisik dan cara memainkan alat musik petik khas Babel ini rasanya tidak menyerap unsur-unsur gambus. Jadi, hanya namanya saja yang diserap.

Beberapa sumber menyebut gitar khas Bangka ini dulu bernama alat musik petik senar. Ketika masuk Islam, diseraplah nama gambus menjadi dambus. Selebihnya, dambus sangat khas Bangka. Hal ini tampak jelas dari bentuknya yang merepresentasikan satwa rusa atau kijang.

Rusa atau kijang merupakan hewan penting dalam kehidupan masyarakat Bangka. Hal itu tampak dalam tradisi Nganggung. Pada tradisi itu, daging rusa atau kijang merupakan makanan yang paling istimewa.

Nganggung adalah tradisi membawa makanan di dulang (nampan) untuk disantap bersama di surau atau masjid. Biasanya, tradisi makan bersama ini diadakan saat hari besar agama Islam, saat ada pesta adat, maupun untuk menyambut tamu-tamu penting.

Untuk menangkap rusa atau kijang, diperlukan ritual khusus. Sebelum berburu, kelompok pemburu (belapun atau berasuk) harus meminta dulu izin kepada dukun hutan. Pembagian rusa atau kijang hasil buruan pun harus dilakukan secara adil dan merata, tidak boleh ada satu pun yang terlewat.

Bentuk kijang atau rusa juga berkaitan dengan harapan. Orang-orang di zaman dulu susah menangkap hewan ini karena gerakannya sangat cekatan. Kepala rusa kemudian diambil sebagai bentuk dambus dengan harapan agar anak-cucunya cekatan saat mereka memainkan alat musik ini.

Kecekatan tangan dalam memainkan dambus memang amat penting karena alat musik ini tidak memiliki petak nada layaknya gitar. Karena itu, tingkat kesulitan memainkannya sangat tinggi. Pemain hanya mengandalkan rasa. Itu sebabnya, jam terbang tinggi dibutuhkan agar makin piawai dalam memetik dawai dambus.

Bentuk dambus yang merepresentasikan kepala rusa atau kijang tersebut juga menegaskan bahwa alat musik ini khas Bangka. Sebab, dalam Islam, bentuk alat musik tidak boleh menampakkan sesuatu karena akan menyerupai berhala.

Bagi masyarakat Bangka, dambus juga tak sekadar alat musik, tapi memiliki nilai tinggi. Pembuatannya tak sembarang, harus melalui proses ritual. Bahan yang digunakannya pun mengikuti aturan tertentu.

Dahulu, untuk membuat kayu pemutar kunci nadanya, masing-masing bahannya berasal dari enam jenis kayu berbeda, yang diambil dari enam hutan yang berbeda pula. Hutan-hutan tersebut masing-masing dipisahkan oleh sungai kecil. Sementara pemetiknya menggunakan gigi harimau.

Biasanya alat musik ini diberi jimat agar suara yang keluar dari dambus membuat rindu atau menjerat hati pendengarnya. Caranya dengan mengasapi dambus menggunakan kemenyan, lalu diberi mantra.

Begitu juga dengan para pemain dambus. Ada sejumlah ritual, bentuknya bisa berbeda-beda. Hal itu dilakukan oleh para pemain dambus agar penonton atau pendengar terpikat alunan dambus yang mereka mainkan sehingga mereka akan selalu rindu untuk mendengar kembali alunan musik ini.

Seiring perkembangan zaman, kemat dan ritual-ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan. Begitu juga dengan material dambus berupa enam jenis kayu dari enam hutan berbeda.

Saat ini, dambus umumnya terbuat dari kayu nangka, kayu ludai, kayu pulai, dan lain sebagainya. Di Belitung, dambus yang disebut juga gambus, sebagian bahkan dibuat dari kayu-kayu limbah atau kayu-kayu sisa.

Dambus umumnya dimainkan sebagai hiburan, misalnya pada upacara ngembaruk atau panen padi pertama saat bulan purnama. Selain ditampilkan secara tunggal, dambus juga ditampilkan bersama alat musik lain berupa gendang induk, gendang anak, tawak-tawak, dan gong, juga bersama tarian yang disebut dincak dambus.

Sebelum Islam masuk Bangka di abad ke-16, dambus diyakini menjadi sarana hiburan dan pergaulan muda mudi. Namun setelah Islam masuk, selain berfungsi sebagai hiburan dan sarana pergaulan muda-mudi, dambus juga digunakan untuk syiar agama. Petuah, ajaran, larangan, dan nasihat diselipkan dalam syair lagu yang berbentuk pantun yang dinyanyikan oleh pemain dambus.

Salah satu syair lagu dambus yang sangat dikenal setelah era masuknya Islam adalah “Abu Samah”. Sebelum Islam masuk, ada “Aliun”, “Hantu Berayun”, dan “Ancok Ati”. Syair-syair lawas itu sampai sekarang masih dimainkan.

Sampai akhir tahun 1990-an, musik tradisional ini masih populer. Dambus dimainkan di panggung-panggung hajatan yang berhubungan dengan upacara daur hidup, seperti cukur rambut, sunatan hingga perkawinan, juga di acara seperti taber (ruwatan) kampung dan sedekah rumah. Tak jarang, pemain dambus bahkan menjadi idola masyarakat.

Seperti nasib kesenian tradisional di Tanah Air lainnya, seiring perkembangan zaman, tak banyak lagi yang tertarik menekuni dambus. Saat ini, pemain dambus umumnya adalah orang-orang tua yang usianya sudah di atas 50-an tahun.

Di berbagai panggung perhelatan, posisi alat musik tradisional ini semakin tergeser oleh organ tunggal, yang dinilai jauh lebih menarik dan kekinian ketimbang dambus.

Dengan kondisi seperti itu, upaya pewarisan alat musik tradisional ini kepada generasi muda menghadapi tantangan besar. Padahal, sejak tahun 2003, dambus sebenarnya telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Beruntung, di tengah berbagai persoalan lambatnya regenerasi karena labelnya yang dianggap kuno dan tidak modern, sejumlah terobosan terus dilakukan meski hanya oleh segelintir orang.

Kini, gitar khas Kepulauan Bangka Belitung ini dipertunjukkan dalam kemasan yang lebih modern. Alat musik tradisional ini digabungkan dengan alat-alat musik lain, seperti kibor, biola, dan gitar. Selain itu, dibuat komposisi musik baru dengan tetap memosisikan dambus sebagai instrumen utama. Sambutannya cukup positif.

---

Sumber: https://arsip-interaktif.kompas.id/musik_dambus

22.02.2019

Air Terjun Temam merupakan destinasi wisata alam di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Airnya berasal dari aliran sungai Temam masih bersih dan terbebas dari sampah. Karena bentuknya terlihat bagai tirai raksasa, air terjun ini sering disebut sebagai Niagara-nya Indonesia.

Tinggi air terjun ini mencapai 12 meter dengan lebar 25 meter. Dikelilingi bebatuan alam serta pepohonan yang hijau, destinasi wisata ini menyajikan pemandangan yang masih alami.

Di atas air terjun terdapat jembatan gantung yang melintang sepanjang 100 meter. Para pengunjung dapat melihat air terjun Temam dari atas jembatan. Jaraknya hanya 50 meter dari air terjun.

Di bawah bawah air terjun Temam terdapat kolam alami sedalam 4 meter. Kolam itu biasa digunakan anak-anak yang tinggal di sekitar air terjun untuk loncat dari atas jembatan.

Di bawah air terjun ini terdapat lampu berwarna-warni. Pada malam hari, lampu-lampu yang otomatis menyala ketika hari gelap tersebut akan membuat pemandangan di air terjun menjadi indah.

Selain menawarkan pemandangan alam yang indah dan asri, destinasi wisata ini juga dilengkapi beberapa fasilitas lain yang tak kalah menarik. Di bagian belakang air terjun terdapat taman bunga dan area bermain flying fox.

Air terjun ini pertama kali dikenalkan oleh orang Belanda pada 1920. Areal tersebut dahulu merupakan lokasi orang-orang Belanda liburan. Lokasinya berada di Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kira-kira berjarak 11 km dari pusat Kota Lubuklinggau.

---

Sumber: 1001indonesia

06.02.2019

Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I mencerminkan semangat kerukunan yang dimiliki masyarakat Palembang. Semangat untuk hidup secara harmonis dalam masyarakat yang beragam itu tampak dari bangunan masjid yang mencerminkan adanya bauran budaya. Arsitektur masjid merupakan hasil perpaduan empat etnis yang banyak bermukim di kota Palembang saat berdirinya masjid ini.

Masjid Agung Palembang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama pada 1738. Masjid terbesar di Kota Palembang ini jika dipandang sekilas mirip bangunan wihara atau kelenteng. Bangunannya yang luas dengan tembok-tembok yang berukuran besar mengingatkan kita pada bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

Pada awalnya, bangunan ini dikenal sebagai Masjid Sulton karena pembangunan dan pengelolaannya diketuai langsung oleh Sang Sultan. Arsitekturnya menonjolkan gaya Melayu Palembang dengan pengaruh budaya Jawa, China, dan Eropa. Saat masjid ini didirikan, keempat etnis inilah yang banyak mendiami kota yang terkenal dengan makanan pempek ini.

Gaya Melayu terlihat dari ragam hias sulur tanaman dan ukiran kaligrafi pada bagian ujung tritisan bangunan utama, menara, jendela, pintu, tiang, dan mihrab masjid.

Gaya Jawa tampak dari corak mahkota bunga teratai di puncak bangunan mihrab dan tiga gapura di sisi timur, utara, dan selatan masjid. Corak ini mengadopsi bentuk atap candi Hindu-Buddha di Pulau Jawa.

Gaya Tionghoa terlihat dari bentuk atap masjid yang menyerupai wihara atau kelenteng. Terdapat hiasan seperti tanduk hewan yang berjajar dari puncak hingga ujung bawah atap di setiap sisi bangunan utama dan menara masjid. Hiasan dan lengkungan di atap itu mengadopsi bentuk atap rumah ataupun rumah ibadah di negeri tirai bambu.

Sementara gaya Eropa tampak dari penggunaan teknologi batu bata dan semen pada fondasi, lantai, dan dinding Masjid Agung Palembang. Pintu masuk masjid gedung baru masjid yang besar dan tinggi juga mencerminkan arsitektur gaya Eropa.

Arsitektur dengan perpaduan banyak budaya sengaja dipilih Sultan karena menyadari adanya keberagaman etnis dan budaya dalam masyarakat Palembang saat itu. Sultan ingin perbedaan tersebut tidak menjadi masalah. Masyarakat tetap hidup rukun dan menjaga hubungan yang harmonis.

Tidak hanya di Palembang. Di banyak tempat di Nusantara, masjid dibangun dengan arsitektur hasil perpaduan berbagai budaya. Ini tidak lepas dari kesadaran dan sikap bijaksana para penyebar agama Islam di Nusantara.

Masuknya Islam ke Nusantara tidak dengan cara memaksa dan menghapuskan budaya-budaya yang sudah ada, tetapi dengan cara membaur dan menyatu dengan kebudayaan-kebudayaan tersebut.

Sejak pendiriannya, bangunan masjid telah mengalami beberapa kali pemugaran. Renovasi terakhir dilakukan tahun 2000 dan selesai tahun 2003, menghasilkan bentuk bangunan yang sekarang. Dalam prosesnya, terjadi penambahan tiga bangunan baru, yaitu bangunan di bagian selatan masjid, di bagian utara, dan bagian timur. Kubah masjid juga mengalami perbaikan di berbagai sisinya.

Bangunan yang berlokasi di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan ini kemudian diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Mengingat sifat historisnya, Masjid Agung Palembang juga ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

---

Sumber: 1001indonesia

19.01.2019

Jambi telah bersiap untuk menjadi tuan rumah penyelenggara "Hari Kopi Sedunia" pada tahun ini. Dikutip dari Akurat.co, Kepala Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat, Ariayansyah, mengatakan bahwa Provinsi Jambi pada 2019 akan berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggara Hari Kopi se-Dunia, pihaknya akan memanfaatkan untuk memaksimalkan Jambi sebagai produsen kopi unggulan.

Kopi Liberika Tungkal Komposit, atau disingkat menjadi "Kopi Litbukom" adalah kopi spesifik yang ada di Jambi.

Dari laman http://jambi.litbang.pertanian.go.id, tanaman kopi tersebut dapat tumbuh di dataran rendah, yaitu lahan gambut. Kopi tersebut adalah khas daerah Tanjung Jabung Barat. Menteri Pertanian Republik Indonesia telah menetapkan kopi tersebut sebagai varietas bina pada No. 4968/SR.120/12/2013 tanggal 6 Desember 2013.

Menurut Ariayansyah, Jambi memiliki potensi untuk menjadi penyelenggara Hari Kopi se-Dunia tingkat Nasional. Hari Kopi adalah sebuah agenda tahunan yang dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda di setiap negara, mereka merayakan hari tersebut dengan cara meningkatkan kepedulian terhadap petani kopi.

Pertama kali diperingati pada 1 Oktober 2015, Hari Kopi diinisiasi oleh Organisasi Kopi Internasional di Milan, Italy.

Peluang menjadi tuan rumah ini akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi yang kopi Jambi di tingkat nasional dan internasional.

---

Sumber: akurat.co

19.01.2019

Bekas areal penambangan timah di desa Air Jajang, kecamatan Merawang, kabupaten Bangka, provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rencananya akan dijadikan tempat wisata. Lokasi itu akan dibuat menjadi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) versi Bangka Belitung.

Rencana ini diungkapkan oleh Kabid Sarana Prasarana dan SDM Umum PT. Timah Tbk, Yahya Nugraha Tirta Atmaja. Perusahaan tersebut merupakan pemilik kampung reklamasi di areal bekas penambangan timah.

"Saat ini kita sudah menyediakan musholla, kamar mandi, dan rumah adat tradisional Palembang dari kayu, gazebo-gazebo, kolam budidaya ikan, kolam wisata air disiapkan perahu, kano," tuturnya, dikutip dari Bangka Pos.

"Luas kawasan reklamasi ini ada 31 hektar, kita juga akan membangun kebun binatang mini bekerja sama dengan komunitas pecinta atau pelestari hewan Babel, ada juga kolam penangkaran buaya saat ini sedang dibangun pagar pelindungnya, buayanya baru ada satu yang sudah datang, masih ada beberapa lagi di penangkaran di Pangkalpinang," imbuh Yahya.

Perkembangan pembuatan Kampung Reklamasi ini sudah dimulai sejak 2018, dengan membuat rumah kayu tradisional Palembang. Kemudian ke depannya juga akan dibangun rumah tradisional Bangka dan Belitung di area tersebut.

Tak hanya dari segi bangunan, berbagai jenis tanaman juga akan dihadirkan untuk menanbah ceria suasana di Kampung Reklamasi ini. Rencananya akan ada tanaman buah-buahan seperti jambu air, jambu cincalo, jambu citra, manga kueni, durian Babgka, sawo, kebun buah naga, dan lainnya.

"Kita juga mengembangkan peternakan untuk penggemukan sapi potong, kalau untuk sapi budidaya kita mengembangkan di Air Nyatoh Belinyu," pungkas Yahya.

---

Sumber: Bangka Pos

13.01.2019

Prestasi membanggakan ditorehkan Aisyah Soraya, Ia berhasil memecahkan rekor MURI bermain drum terlama di dunia, dan menuai apresiasi dari banyak pihak. Salah satunya dari Branch Manager (BM) Agung Toyota Bengkulu, Meriani.

Meri mengaku bangga atas prestasi yang diukir oleh Aisya Soraya yang berhasil memecahkan rekor MURI sebagai anak perempuan terlama yang menabuh drum di dunia. Oleh sebab itu, ia pun mengundang Aisya untuk datang ke kantornya, Sabtu (5/12).

"Saya meminta maaf dikarenakan tidak bisa hadir dalam pemecahan rekor kemarin karena saya baru saja pulang dari Amerika," kata Meri.

Atas bentuk apresiasinya kepada putri bungsu Ahmad Irfansyah dan Endang Titin itu, Meri pun memberikan reward uang tunai Rp 5 juta.

"Ini sebagai bentuk support atas prestasi Aisya, anak perempuan pertama di dunia yang mampu memecahkan rekor MURI bermain drum terlama," ungkapnya.

Tak hanya itu, Meri juga berjanji ke depannya Toyota akan memberikan support dalam bentuk Corporate Social Responsibilities (CSR) untuk kreativitas anak muda di Bengkulu.

Sebelumnya, gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, juga menyampaikan apresiasi. Sama dengan Meri, ia memberikan uang Rp 5 juta untuk Aisya.

Apresiasi dan reward juga datang dari pemerintah kota Bengkulu. Pasalnya, wakil wali kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, memberikan satu unit laptop anyar untuk Aisya.

Sementara itu, Aisya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak ini. Siswi SDN 8 Kota Bengkulu yang bercita-cita menjadi dokter itu mengaku ide memecahkan rekor MURI bermain drum selama 10 jam 16 menit 15 detik itu sebenarnya baru muncul 1,5 bulan belakangan.

"Semoga Aisya bisa lebih beprestasi lebih baik lagi ke depan," tambahnya.

---

Drummer Anak Perempuan Bengkulu ini Siap Pecahkan Rekor Bermain Drum Terlama

Sumber: kabarrafflesia.com

13.01.2019

Satu hal yang sangat spesial di Teluk Kiluan adalah atraksi lumba-lumba. Anda bisa menyaksikan mereka berlompatan di permukaan laut pada pagi hari. Atraksi yang sangat menarik untuk dijadikan objek foto itu menjadi buruan para wisatawan.

Teluk Kiluan berada di ujung selatan Pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Tenggamus, Lampung. Lokasinya sekitar 80 kilometer dari Bandar Lampung ke arah barat daya. Untuk mencapainya dibutuhkan sekitar 3-4 jam dengan kendaraan bermotor.

Berdasarkan cerita turun-temurun, nama Teluk Kiluan berasal dari 'permintaan' terakhir seorang tokoh dari Banten bernama Raden Mas Antawijaya. Menjelang ajalnya akibat pertarungan dengan lawan yang tidak diketahui, Antawijaya meminta dimakamkan di salah satu pulau di kawasan itu.

Permintaan terakhir itu kemudian menjadi nama lokasi tersebut. Dalam bahasa Lampung, kata kiluan berarti permintaan.

Ada dua jenis lumba-lumba yang mendiami perairan ini, yaitu lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) dan lumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris). Kebiasaan satwa itu melompat-lompat di waktu tertentu mengundang banyak pengunjung datang ke tempat ini.

Jumlah lumba-lumba di tempat ini sangat menakjubkan. Itu karena lumba-lumba yang melewati Teluk Kiluan ini diperkirakan mencapai ribuan, menjadikannya salah satu migrasi terbesar lumba-lumba di dunia.

Untuk melihat lumba-lumba di Teluk Kiluan, para pengunjung bisa menggunakan kapal ketinting, sebuah kapal khas Lampung yang berukuran kecil. Waktu terbaik untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba ini adalah antara bulan April hingga September, atau pada musim kemarau.

Agar pengunjung dapat menikmati lumba-lumba setidaknya dibutuhkan waktu 2 hari satu malam di Teluk Kiluan. Itu karena lumba-lumba hanya bisa dinikmati pagi hari. Hari kedua juga bisa digunakan untuk beristirahat.

Menyaksikan secara langsung atraksi lumba-lumba di habitat asli mereka tentu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Apalagi ketika lumba-lumba itu mendekat ke perahu Anda.

Selain atraksi lumba-lumba, teluk ini juga menyediakan spot snorkeling yang menawan. Pengunjung juga dapat menikmati keindahan pasir putih pantainya yang seperti tepung terigu.

Ada pula laguna berupa kolam air asin berukuran separuh kolam renang olimpik. Laguna itu terbentuk dari susunan unik batuan karang. Ada pula sejumlah pulau kecil, antara lain Pulau Kiluan, Pulau Tutungkalik, Pulau Batu Panjang, dan Pulau Burung. Juga ada Batu Candi. Dinamakan demikian karena bentuknya yang menyerupai candi.

Selain menjadi habitat lumba-lumba, pantai di sekitar Teluk Kiluan juga menjadi tempat bersarang dua spesies penyu, yaitu penyu hijau dan penyu sisik.

---

Sumber: 1001indonesia

11.01.2019
Halaman 1 dari 2

loading...

  • Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau akan betul-betul lupa

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com